Prognosa ekonomi global paska COVID-19 dan apa artinya bagi perekonomian Indonesia

My Bookmarks close
You have no bookmarks currently
    • Global economic outlook post COVID-19 and what it means for the Indonesian Global economic outlook post COVID-19 and what it means for the Indonesian
    17 September 2020

    English | Bahasa


     


    Oleh Enrico Tanuwidjaja


    Tahun 2020 dimulai dengan optimisme global tentang masa depan ekonomi, namun wabah COVID-19 telah menyebabkan penurunan tajam yang mengganggu industri, bisnis dan mata pencaharian. Ekonomi global yang tumbuh 2,9 persen pada 2019, diprediksi akan berkontraksi setidaknya lima persen pada tahun 2020.

    Prognosa kami terhadap ekonomi global menggarisbawahi setidaknya ada dua perubahan makro saat pandemi berakhir. Pertama, setelah melalui beberapa dekade globalisasi, ada kemungkinan bahwa banyak negara akan berfokus pada kekuatan domestik atau inward-looking dalam usaha meningkatkan ketahanan negara terhadap krisis global. Pandemi COVID-19 telah menyebabkan negara-negara menutup perbatasan dan menghentikan kegiatan manufaktur skala besar yang memengaruhi rantai pasok global dan regional. Akibatnya, saat ini banyak negara tengah berusaha untuk memperluas produksi dalam negeri dengan tujuan mengurangi ketergantungan mereka pada pemasok negara lain sehingga gangguan pada rantai pasokan negara tersebut dapat diselesaikan dengan cepat.

    Produksi dalam negeri dan swasembada akan menjadi penting terutama untuk beberapa industri strategis. Jika suatu negara tidak dapat melakukan produksi dalam negeri, negara tersebut harus melakukan diversifikasi sumber pasokan impor. Baik salah satu pendekatan maupun kombinasi dari kedua pendekatan tersebut dapat meningkatkan biaya bahan baku dan pasokan, namun akan memastikan ketersediaan pasokan alternatif dalam keadaan darurat. Meskipun biaya lebih tinggi, produksi akan lebih stabil jika gangguan global lainnya terjadi di masa mendatang.

    Pengeringan bihun dengan sinar matahari di pabrik bihun semi tradisional Indonesia. Untuk mengurangi gangguan rantai pasokan di masa depan, pemerintah berusaha meningkatkan produksi dalam negeri di sektor-sektor penting dan mendiversifikasi sumber pasokan impor. Foto: Shutterstock

    Sementara pandemi cenderung memicu penurunan perdagangan internasional yang berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi, kami percaya setiap negara akan tetap tangguh, seperti yang tercermin pada seabad yang lalu setelah Pandemi Flu Spanyol tahun 1919 berakhir.

    Melihat dari sejarah, globalisasi dan perdagangan global juga tidak mungkin mengalami kemunduran secara permanen. Untuk itu, perubahan makro kedua yang terjadi telah mempercepat transisi pusat sistem global dari Amerika Serikat ke Tiongkok. Dalam krisis global ini, kita telah melihat upaya Tiongkok dalam mengelola dampak domestik COVID-19 dan bantuan yang mereka berikan kepada negara-negara lain yang terkena dampak. Pemulihan COVID-19 di Tiongkok, dikombinasikan dengan momentum pra-pandemi melalui investasi Belt and Road Initiative di belahan dunia timur, Tiongkok akan semakin memperkuat pengaruh globalnya.

    Indonesia harus melihat implikasi yang disebabkan oleh pandemi global dan mengambil strategi yang tepat dalam menanggapi situasi tersebut. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia untuk beberapa sektor ekspor-impor dan pada kuartal pertama 2020, Tiongkok telah menyumbang 19 persen dari total investasi asing langsung (foreign direct investment – FDI) negara tersebut. Salah satu investasi terbesar Tiongkok adalah pabrik aki mobil listrik di Morowali, yang telah beroperasi sejak 2018. Impor barang modal dan mesin Indonesia yang digunakan dalam produksi tersebut juga sebagian besar berasal dari Tiongkok. Di bawah skenario globalisasi yang dipimpin Tiongkok, kolaborasi ekonomi bilateral Indonesia dengan Tiongkok akan menjadi sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjangnya.

    Bahkan ketika Indonesia terus menyambut arus perdagangan dan investasi global, Indonesia harus memperkuat ketahanannya dengan memperdalam kemampuan domestik. Misalnya, FDI ke Indonesia dapat disertai dengan kewajiban untuk membagikan pengetahuan dan teknologi kepada bisnis lokal dan tenaga kerja Indonesia. Memperkuat keahlian dan keterampilan pekerja Indonesia adalah kunci untuk meningkatkan peran mereka dalam ekonomi domestik yang akan mengarah pada peningkatan pendapatan dan standar hidup.

    Mengingat besarnya jumlah tenaga kerja Indonesia dan sumber daya alam yang kaya dan beragam, Indonesia harus mampu meningkatkan produksi dalam negeri pada industri inti dan strategis seperti makanan dasar dan olahan, perawatan kesehatan, bahan bangunan, pakaian dan transportasi. Untuk sektor non-inti dan non-kritis seperti pariwisata, perhotelan, hiburan, dan manufaktur, kami berharap akan ada diversifikasi rantai pasokan yang lebih besar karena perusahaan-perusahaan dapat lebih memperhatikan kelangsungan bisnis dengan menemukan keseimbangan baru antara pemasok lokal yang kompeten dan pemasok luar negeri yang beragam. Pada intinya, perusahaan harus mengubah cara mereka beroperasi.

    Reformasi kebijakan dapat mendorong pertumbuhan

    Kebijakan ekonomi Indonesia telah bergerak menuju arah yang tepat sejak awal dekade ini seiring dengan reformasi yang diluncurkan untuk mendukung pertumbuhan dan ketahanan ekonomi berkelanjutan. Undang-undang Omnibus untuk menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan menandai awal reformasi struktural untuk meningkatkan keterampilan pekerja Indonesia dan menarik FDI yang tepat – terutama di sektor makanan dan minuman (F&B) serta transportasi – dengan tujuan memperkuat ekonomi Indonesia. Indonesia juga harus mendorong investor lokal untuk berbuat lebih banyak untuk berkontribusi dalam mendukung industri inti dan strategisnya. Misalnya, sektor F&B mendapat lebih dari US$17 miliar untuk investasi dalam negeri langsung tahun lalu, tertinggi dari seluruh sektor.

    Kebijakan fiskal juga akan lebih ekspansif dan, jika perlu, lebih banyak counter-cyclical melalui peningkatan pengeluaran pemerintah atau pengurangan pajak untuk membantu merangsang pemulihan ekonomi. Pemerintah memiliki peran penting untuk mengembangkan sektor-sektor inti dan strategis Indonesia dan dalam meluncurkan langkah-langkah fiskal, karena gangguan ekonomi global dapat terjadi secara tak terduga. Untuk membangun ekonomi Indonesia, kebijakan moneter dan keuangan perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan memfasilitasi pinjaman ke sektor swasta, terutama usaha kecil dan menengah. Kebijakan juga didorong untuk mendukung pertumbuhan sektor keuangan dan penyediaan produk keuangan yang lebih beragam dan kompetitif, sehingga likuiditas yang cukup akan tersedia bagi bisnis dan individu yang membutuhkan.

     

    Tentang penulis
    Enrico Tanuwidjaja adalah Ekonom di UOB Indonesia. Dia memulai tugasnya di UOB Indonesia pada tahun 2017 dan bertanggung jawab atas penelitian makroekonomi yang berfokus pada Indonesia. Enrico menulis tentang perkembangan dan prospek ekonomi makro Indonesia serta pasar keuangan domestik, memberikan wawasan bagi nasabah internal dan eksternal UOB. Enrico sering ditampilkan di berita dan media bisnis terkemuka, termasuk menulis opini. Silahkan ikuti dia di LinkedIn.

     

    Artikel ini telah diterbitkan di Bisnis Indonesia pada 25 Agustus 2020.

    Artikel ini tidak boleh diduplikasi ataupun digunakan oleh pihak lain dengan maksud apapun. Artikel ini dibuat dengan dasar umum tanpa kewajiban dan hanya untuk informasi saja. Informasi di dalam artikel ini berdasarkan asumsi, informasi dan kondisi tertentu yang ada saat artikel diterbitkan dan bisa saja berubah seiring berjalannya waktu tanpa pemberitahuan. Anda harus berkonsultasi dengan konsultan professional anda terkait bahan yang didiskusikan di dalam artikel ini. Tidak ada bagian di dalam artikel ini yang merupakan nasihat terkait akunting, hukum, peraturan, perpajakan ataupun lainnya. Artikel ini tidak bermaksud untuk dijadikan penawaran, rekomendasi, permohonan, atau saran pembelian atau penjualan atas suatu produk investasi, sekuritas ataupun aset yang dapat diperdagangkan. Meski sikap kehati-hatian telah diambil untuk memastikan keakuratan dan objektivitas informasi yang terkandung di dalam artikel ini, UOB dan para karyawannya tidak membuat pernyataan atau jaminan apapun atas keakuratan, kelengkapan dan objektivitas baik secara tertulis maupun tersirat, dan tidak bertanggung jawab atau berkewajiban atas kesalahan, ketidakakuratan, kelalaian atau konsekuensi atau kerugian atau kerusakan apapun yang dialami oleh siapapun akibat mengandalkan pandangan yang diungkapkan dan informasi di dalam artikel ini.

    Share:FacebookTwitterLinkedin

    Temukan bagaimana kami dapat membantu perluasan usaha anda di ASEAN

    Hubungi